Kamis, 17 April 2014
NEWS TICKER
7 Video Porno Siswi SMP yang Menghebohkan Tanah Air »  Inilah 4 Fakta Video Mesum SMP IV Jakarta »  Inilah Photo Syur Sefty Sanustika, Istri Fathanah »  Tes CPNS di Kepri 2013 Hanya di Natuna, Lingga dan Anambas »  Foto Berseragam Mahasiswi Akbid Bugil itu Ternyata PSK »  Siswi Pemeran Video Mesum SMPN 4 Dikenal Nakal »  Siswa SMP Ngaku 4 Kali Diajak Mesum Oleh Seorang Janda STW »  Gaya Hidup Anak Ahmad Dhani, Mulai Simpan Video Porno Sampai Bebas Pacaran »  Inilah Fajrina Khairiza Pacar Dul, Kecil-Kecil Udah Berani Buka-Bukaan »  Lepas Jilbab, Sahara Jadi Bintang Film Porno »  Ternyata Siswi SMP 4 Sudah Tiga Kali Rekam Video Mesum di Sekolah »  Tes Honorer Jangan Dijadikan Kedok Untuk Muluskan Titipan »  Perang Riau Sebagai Titik Tolak Hari Jadi Tanjungpinang »  Harga Hewan Kurban Terus Naik »  Foto Mahasiswi Bugil di Facebook Bukan Dari Akbid Tanjungpinang »  Ritual Sekte Seks Bebas di Bandung, 1 Perempuan Layani 9 Pria »  Guru Ngaji Pergoki Istri Mesum Dengan Kepala Sekolah di Ruang Tamu »  Apakah Foto Hot ini Alasan Polwan Cantik Briptu Rani Hilang? »  Jadi Germo Pelacur di Bawah Umur, HF Bakal di-DO dari IPB »  Inilah Susi, yang Relakan Tubuhnya Jadi ‘Suap’ Sang Rektor IPDN » 
 
Home » Kolom » Pendidikan Berkarakter dan Masa Depan PAUD
KOLOM

Pendidikan Berkarakter dan Masa Depan PAUD

Selasa, 15 Januari 2013 14:27 WIB - 169 Kunjungan
Maswito

Maswito

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan sejak usia dini. Alasannya, sederhana jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendikbud Prof. Muhammad Nuh, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang.

Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter.

Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji. Dunia pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter. Ini adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri.

Pemerintah memberikan perhatian penuh betapa pentingnya pendidikan berkarakter ini di setiap jenjang pendidikan ini – termasuk bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini.  Dalam Pasal 1 angka 43 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) disebutkan PAUD adalah suatu upaya untuk pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangn jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dan memasuki pendidikan lebih lanjut. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Komitmen Dunia

Selain menjadi komitmen bangsa Indonesia, PAUD juga telah menjadi komitmen dunia yang telah dituangkan dalam Deklarasi Dakkar (2000) dinyatakan “Pentingnya perawatan dan pendidikan anak usia dini secara menyeluruh, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung,”.

Ada beberapa alasan mengapa PAUD dianggap sebagai sesuatu hal yang penting dalam mewujudkan pondasi pendidikan bagi bangsa ini. Pertama, PAUD merupakan dasar bagi pembentukan kepribadian manusia secara utuh (karakter, budi pekerti luhur, pandai dan terampil). Kedua, di tahun pertama kehidupan anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan hal ini bertalian dengan perkembangan otak anak. Dengan kedua hal tersebut anak sepertinya harus dipersiapkan sejak dini.

Nah, inilah yang kemudian menjadi catatan penting bagaimana ketika membicarakan pendidikan karakter maka tidak terlepas dari PAUD. Artinya harus ada semacam sinkronisasi antara pembentukan karakter anak dan PAUD. Selama ini, ada berbagai permasalahan yang tampak ketika PAUD di launching di Indonesia. Seperti yang penulis kutip dari website http://www.jugaguru.com, “Dilema Tumbuh Kembang PAUD di Indonesia,” terkait dengan urgensi PAUD ini bertolak dari sejarah di mana tahun 2005 UNESCO mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang angka partisipasi PAUD terendah di ASEAN, baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86% dan Malaysia (89%). Dan kesemunya ini semakin tampak dengan Human Development Index (HDI) Indonesia yang juga lebih rendah diantara negara-negara tersebut. Ini membuktikan bahwa pembangunan PAUD berbanding lurus dengan mutu dari sebuah negara yang terdiskripsikan dalam HDI.

Sedangkan Depdikbud dalam buku Pembangunan Pendidikan Nasional tahun 2007 menggambarkan bahwa Pemerintah telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD yang awalnya pada tahun 2004 adalah 39,09% maka pada tahun 2006 sudah mencapai 45,63% dengan target capaian pada tahun 2007 sebesar 48,07%, sudah barang tentu ini merupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi pengembangan pendidikan anak usia dini.

Kemudian disebutkan bahwa agenda-agenda yang akan dicapai pada tahun 2009 seperti pencapaian APK PAUD usia 2 – 6 tahun sebesar Akan tetapi perlu dikritisi untuk pencapaian 53,90% atau sekitar 10,05 juta orang kualitas dari layanan yang diberikan, bukan kepada kuantitas. Ini menjadi amat penting karena begitu dasarnya PAUD itu bagi seorang manusia dalam kehidupannya yang akan datang.

Kendati demikian, jika dikaitkan dengan standarisasi pelaksanaan PAUD cukup banyak permasalahan baik secara mikro maupun makro. Sesuai dengan standarisasi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 58 Tahun 2009 tentang standarisasi dimana dalam Pasal 1 (1) pada Permendiknas tersebut disebutkan ada empat standarisasi yang menjadi tumpuan pada proses pelaksanaan PAUD yakni:

1. Standar tingkat pencapaian perkembangan;
2. Standar pendidik dan tenaga kependidikan;
3. Standar isi, proses, dan penilaian;
4. Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Pada prinsipnya keempat pilar standarisasi yang sudah ditentukan oleh Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 tersebut pada prakteknya sulit sekali untuk dipraktekkan. PAUD yang semestinya menjadi tumpuan untuk membangun karakter anak, malah menjadi lahan bisnis bagi sebagian orang yang memanfaatkan ini untuk melakukan komersialisasi pendidikan daripada memprioritaskan pengembangan anak usia dini.

Dengan kata lain, ditinjau dari berbagai sudut pandang proses pelaksanaan PAUD selama beberapa tahun belakangan ini dapatlah kita tarik beberapa permasalahan dan sekaligus menatap bagaimana nasib masa depan PAUD. Pertama, belum pahamnya masyarakat betapa pentingnya pendidikan PAUD dan nyaris upaya untuk mengampanyekannya relatif minim padahal di luar negeri PAUD begitu gencar karena dinilai mampu membentuk karakter manusia sejak dini.

Kedua, masalah profesionalisme tenaga pengajar dan pengelola PAUD. PAUD yang ditujukan untuk membentuk karakter pendidikan anak sejak dini justru malah membuat anak didiknya berpikir tidak kreatif karena tenaga pengajarnya juga relatif banyak yang kurang profesional dalam mengelola PAUD sebab sebagian PAUD tidak dikelola dengan baik dan mengedepankan komersialisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Apapun persoalannya tentunya masa depan PAUD dan pendidikan karakter kelak tergantung bagaimana pengelola dan tenaga pendidiknya serta peran masyarakat untuk bersama-sama membangun pendidikan yang berbasis karakter melalui program PAUD ini.

Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya “Semua Berakar Pada Karakter” (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dini di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Walau kita belum mampu sejajar dengan Negara Cina, Amerika, Jepang, dan Korea, kita harus secara perlahan tapi pasti mengikutinya. Semuanya ini tergantung kepada niat baik kepada kita semua. Berat memang tugas kita, tapi kalau kita ikhlas menjalaninya, niscaya semuanya pelan tapi pasti akan tercapai.***

Maswito adalah penulis buku Nasibmu Oemar Bakri (Catatan Nurani Seorang Guru) dan Ismeth Abdullah Sang Penggerak Pembangunan Kepri




Kualifikasi dan Uji Sertifikasi Guru
Perayaan Imlek “Kado Istimewa” Gus Dur
Mendongkrak Semangat Egaliter Pendidikan
Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini
Peranan Lagu dalam Pembentukan Karakter Anak
PAUD Investasi Masa Depan
Konsep Bermain Pada Anak PAUD
comments powered by Disqus
Berita Lainnya