Selasa, 29 Juli 2014

Redaksional

NEWS TICKER
7 Video Porno Siswi SMP yang Menghebohkan Tanah Air »  Inilah 4 Fakta Video Mesum SMP IV Jakarta »  Inilah Photo Syur Sefty Sanustika, Istri Fathanah »  Foto Berseragam Mahasiswi Akbid Bugil itu Ternyata PSK »  Tes CPNS di Kepri 2013 Hanya di Natuna, Lingga dan Anambas »  Siswa SMP Ngaku 4 Kali Diajak Mesum Oleh Seorang Janda STW »  Gaya Hidup Anak Ahmad Dhani, Mulai Simpan Video Porno Sampai Bebas Pacaran »  Jadi Germo Pelacur di Bawah Umur, HF Bakal di-DO dari IPB »  Siswi Pemeran Video Mesum SMPN 4 Dikenal Nakal »  Inilah Fajrina Khairiza Pacar Dul, Kecil-Kecil Udah Berani Buka-Bukaan »  Lepas Jilbab, Sahara Jadi Bintang Film Porno »  Harga Hewan Kurban Terus Naik »  Perang Riau Sebagai Titik Tolak Hari Jadi Tanjungpinang »  Guru Ngaji Pergoki Istri Mesum Dengan Kepala Sekolah di Ruang Tamu »  Foto Mahasiswi Bugil di Facebook Bukan Dari Akbid Tanjungpinang »  Ternyata Siswi SMP 4 Sudah Tiga Kali Rekam Video Mesum di Sekolah »  Ritual Sekte Seks Bebas di Bandung, 1 Perempuan Layani 9 Pria »  Tes Honorer Jangan Dijadikan Kedok Untuk Muluskan Titipan »  Kakek Bejat, Berulang Kali Perkosa Cucu di Depan Adiknya »  Suporter Cantik dan Seksi, Sisi Lain Indahnya Piala Dunia 2014 » 
 
Home » Spesial » Opini » Membaca Dan Kemajuan Bangsa
OPINI

Membaca Dan Kemajuan Bangsa

Senin, 1 Juli 2013 10:25 WIB - 291 Kunjungan
Drs. Nazaruddin, MH Dosen STAI-Miftahul ‘Ulum Tanjungpinang

Drs. Nazaruddin,MH Dosen STAI-Miftahul ‘Ulum Tanjungpinang

Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang maju mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi di era globalisasi saat ini, dengan perekonomian dunia semakin terintegrasi dan perdagangan antar Negara kian liberal.

Hanya bangsa yang dapat menghasilkan barang dan jasa kompetitif bias eksis, maju dan makmur. Cirinya berkualitas unggul, harga relatif murah, dan kuantitas produksi (suplly) dapat memenuhi kebutuhan pasar, baik pasar domestik maupun internasional. Menghasilkan barang dan jasa semacam ini tidak mungkin dikerjakan secara tradisional tanpa menggunakan tekhnologi atau dengan manajemen asal-asalan.

Ayat al-qur’an yang pertama kali turun berupa perintah membaca (IQRA”). Mengapa iqra’ merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, padahal beliau seorang Ummi (Tidak pandi baca tulis)? Mengpa demikian?

Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti “Menghimpun” sehingga tidak selalu harus diartikan membaca teks tertulis dengan aksara tertentu saja. Iqra’ berarti bacalah, telatih, dalamilah, ketahuilah cirri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis. Al hasil, objek perintah iqra’ mencakup segal sesuatu yang dapat dijangkaukannya. Demikian terpadu dalam perintah segala macam cara yang dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.

Mengulang-ulang membaca ayat al-qur’an menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan bathin, membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.

Sungguh! Perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. Membaca dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pembangunan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban umat manusia dimuka bumi.

Pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh al-qur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya. Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek.

Al-qur’an sejak dini memadukan usaha dan pertolongan Allah SWT, akal dan kalbu, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti robot, pikir tanpa zikir menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu tanpa ilmu sama dengan pelita ditangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita ditangan pencuri.

Sungguh, ayat-ayat al-qur’an merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan manusia, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu sering kali pada saat al-qur’an berbicara tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagai orang yang tekun membaca dan mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi yang tadinya terkesan kacau, menjadi terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui dimana ujung pangkalnya.

Al-qur’an menempuh berbagai cara guna megantar manusia kepada kesempurnaan kemanusiaannya antara lain dengan mengemukakan kisah faktual atau simbolik. Al-qur’an tidak segan mengisahkan “kelemahan manusiawi”, namun itu digambarkannya dengan kalimat indah lagi sopan tanpa mengundang tepuk tangan atau membangkitkan potensi negatif, tetapi untuk mengaris bawahi akibat buruk kelemahan itu, atau menggambarkan saat kesadaran manusia menghadapi godaan nafsu setan.

Tentu ini bukan kebetulan, tetapi sunnatullah bahwa kalau ingin maju dna hidup bahagia dunia-akherat, kita harus menguasai dan menggunakan ilmu. Gerbang utamanya dengan membaca serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang qauliah maupun Qauniyah.

Kendala Kemajuan

Tantangan adalah bagaimana kita mentransformasikan budaya baca masyarkat yang rendah minat baca terutama karena kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemajuan dan kesejahteraan diri maupun bangsa.

Daya beli mayoritas rakyat kita masih lemah sehingga untuk memenuhi kebutuhan keseharian saja sudah kewalahan, apalagi beli koran, buku, atau bacaan lainnya. Komitmen pemerintah menyediakan buku dan bahan bacaan yang baik dan berkualitas dan murah tentunya menjadi harapan masyarakat. Dilain pihak serbuan media elektronik (Televisi, Internet, Bioskop) yang kebanyakan berisi tentang hiburan, pornografi, iklan kmersial, dan hal hedonictis lainnya menjauhkan masyarakat dari budaya membaca dan menulis. Masyarakat lebih suka menonton dan berbudaya verbal. Apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap kaum cerdik pandai, ilmuan, peneliti, akademisi, guru, dan penggiat taman bacaan serta profesional sangat tidak memadai.

Jalan Keluar

Kalau ingin menjadi bangsa maju, makmur, dan bermartabat, tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan gerakan nasional secara cerdas, sistematis, dan kontinu untuk mencintai, menguasai dan menerapkan IPTEK di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama yang harus dilakukan adalah membuka selebarnya akses masyarakat untuk membaca al-qur’an dalam berbagai kesempatan (magrib bersama al-quur’an) serta bahan bacaan yang bermanfaat dan berguna lainnya.

Kedua sistem pendididkan harus kita benahi agar bisa menghasilkan lulusan SDM yang mampu berpikir jernih dan logis, kreatif, inovatif, mampu berkomunikasi dengna baik, melek teknologi indormasi, berjiwa wirausaha, memiliki etos kerja tinggi dan berakhlak mulia. Semoga dengan harapan kita semua STQ Ke V KEPRI Tahun ini, bisa menghasilkan produk yang berkualitas unggul dengan berbagai utamanya dengan membaca serta memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar tercapai hidup bahagia dunia dna akherat. Semoga bermanfaat. ***



comments powered by Disqus
Berita Lainnya