Senin, 1 September 2014

Redaksional

NEWS TICKER
7 Video Porno Siswi SMP yang Menghebohkan Tanah Air »  Inilah 4 Fakta Video Mesum SMP IV Jakarta »  Inilah Photo Syur Sefty Sanustika, Istri Fathanah »  Foto Berseragam Mahasiswi Akbid Bugil itu Ternyata PSK »  Tes CPNS di Kepri 2013 Hanya di Natuna, Lingga dan Anambas »  Siswa SMP Ngaku 4 Kali Diajak Mesum Oleh Seorang Janda STW »  Gaya Hidup Anak Ahmad Dhani, Mulai Simpan Video Porno Sampai Bebas Pacaran »  Jadi Germo Pelacur di Bawah Umur, HF Bakal di-DO dari IPB »  Siswi Pemeran Video Mesum SMPN 4 Dikenal Nakal »  Maafkan Mama, Nak…. »  Guru Ngaji Pergoki Istri Mesum Dengan Kepala Sekolah di Ruang Tamu »  Inilah Fajrina Khairiza Pacar Dul, Kecil-Kecil Udah Berani Buka-Bukaan »  Lepas Jilbab, Sahara Jadi Bintang Film Porno »  Foto Mahasiswi Bugil di Facebook Bukan Dari Akbid Tanjungpinang »  Perang Riau Sebagai Titik Tolak Hari Jadi Tanjungpinang »  Harga Hewan Kurban Terus Naik »  Ritual Sekte Seks Bebas di Bandung, 1 Perempuan Layani 9 Pria »  Kakek Bejat, Berulang Kali Perkosa Cucu di Depan Adiknya »  Ternyata Siswi SMP 4 Sudah Tiga Kali Rekam Video Mesum di Sekolah »  Tes Honorer Jangan Dijadikan Kedok Untuk Muluskan Titipan » 
 
Home » Spesial » Opini » Andai Iwan Fals Jadi Presiden
OPINI

Andai Iwan Fals Jadi Presiden

Jumat, 24 Mei 2013 14:53 WIB - 839 Kunjungan
Oleh : Teguh Susanto (Staf pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang)

 Teguh Susanto
(Staf pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang)

Generasi mana yang tidak kenal dengan Iwan Fals? Seniman yang memiliki nama asli Virgiawan Listianto ini mungkin bisa dianggap paling populer dibandingkan seniman, artis, pelawak, presenter televisi, kiai, menteri, atau apalagi sekadar artis manapun yang ingin menjadi anggota Dewan seperti yang banyak dilakoni artis tanah air saat ini.

Mungkin kadung masyarakat menganggap bahwa lembaga perwakilan rakyat yang terhormat itu lebih banyak diisi badut-badut dan aktor-aktor politik, artis dan pelawak pun ingin menjadi anggota Dewan. Atau karena artis sinetron dan penyanyi dangdut dapat bocoran dari rekan sejawat yang lebih dulu menikmati empuknya kursi di Dewan, tentang gampangnya mengemban amanat sebagai wakil rakyat. Toh dengan duduk-duduk saja pun, kalau tak ingin ikut jadi calo proyek atau terima suap dari eksekutif dan pengusaha, anggota Dewan bisa menerima penghasilan yang lebih dari cukup. Makanya banyak artis yang “tuman” ikut-ikutan nyaleg?

Tak ada alasan pasti kenapa banyak artis yang ingin duduk di kursi Dewan. Bisa jadi karena kepopulerannya mulai turun, dan ingin mencari nafkah dari dunia politik. Atau malah sebaliknya banyak partai politik yang mulai kehilangan kepercayaan dan legitimasi di mata rakyat. Atau partai-partai politik tak mampu lagi melaksanakan kaderisasi, atau, dan atau lain.
Masih untung seniman sekaliber Iwan Fals masih setia dengan jalur hidupnya, bermusik. Beliau tidak perlu beralasan karena ingin menyuarakan aspirasi rakyat hingga harus ikut-ikutan jadi caleg dan duduk menjadi anggota DPR. Lirik lagu-lagu Iwan Fals sudah sangat-sangat sarat dengan pesan moral dan jeritan suara hati rakyat dari tahun ke tahun hingga 67 tahun Indonesia merdeka.

Melalui lagu-lagunya Iwan Fals bahkan telah lama meneriakkan, tak lagi sekadar menyuarakan apalagi membisikkan, suara rakyat. Hanya sayang dari generasi ke generasi bangsa ini seolah mewarisi pimpinan yang tuli dan kehilangan urat sensitif. Mungkin kita masih ingat dengan salah satu lirik lagunya ”Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju…” Atau mungkin lirik lagunya yang lebih dulu berkibar dari KPK untuk mengutuk pelaku korupsi, ”Kisah usang tikus-tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor. Kisah usang tikus-tikus berdasi yang suka ingkar janji lalu sembunyi di balik meja teman sekerja, di dalam lemari dari baja…” Iwan Fals tak perlu menjadi anggota Dewan jika hanya untuk sekadar ”meluruskan” centang perenangnya kebijakan pemerintah.

Jika Dede Yusuf dan Rano ”Si Doel” Karno saja bisa menjadi wakil kepala daerah, saya yakin akan lebih banyak masyarakat yang akan memilih Iwan Fals untuk jadi kepala daerah. Bahkan mungkin Iwan Fals sudah melebihi tingkat kepopuleran yang diperlukan untuk menjadi ketua DPR atau seorang presiden sekalipun. Dengan catatan, jika ukuran menjadi presiden dan anggota Dewan hanya dilihat dari tingkat kepopuleran semata. Rakyat di pelosok mana di negeri ini yang tidak kenal dengan Iwan Fals? Dengan alasan tersebut, tidak salah jika saya sangat memimpikan Iwan Fals akan menjadi presiden Indonesia.

Sebab selama ini saya menilai kebanyakan dari kita memilih pemimpin karena kepopuleran, dan kesan luar yang ditampilkan dari para calon pemimpin. Bukan berdasarkan pemahaman tentang realita, kondisi aktual bangsa, kearifan lokal masyarakat, dan sikap mengenali rakyat bangsa ini.

Jika Iwan Fals menjadi presiden, saya akan minta kepadanya untuk menegakkan marwah bangsa ini. Saya akan minta kepadanya untuk tidak menyuruh rakyat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia, sebelum pemerintah sendiri berani menegakkan kedaulatan dan harga dirinya di mata dunia. Sebab bagaimana saya harus bangga mejadi bangsa Indonesia, jika banyak saudara-saudara saya harus bekerja di luar negeri menjadi TKI karena di negerinya yang gemah ripah loh jinawi ini tidak tersedia lapangan pekerjaan? Bagaimana saya harus bangga jika ketika para tenaga kerja yang memberi sumbangsih bagi devisa negara itu mengalami perlakuan seperti binatang di luar negeri, pemerintah hanya bisa mengatakan ikut prihatin.

Yang harusnya ikut prihatin itu rakyat kecil seperti saya. Pemerintah harusnya bertindak tegas, dan minta agar pelaku tindakan tidak manusiawi yang diterima TKI/TKW di luar negeri itu dituntut secara hukum. Jangan lagi biarkan keluarga TKI hanya harus pasrah menerima kedatangan orang tuanya, anaknya, istrinya, atau suaminya kembali ke tanah dalam peti mati tanpa tahu apa penyebab kematiannya, siapa pelakunya, dan apa sanksi bagi pelakunya. Rakyat kecil seperti saya boleh berkata prihatin, tidak bagi presiden. Sekali lagi tidak, karena presiden wajib menegakkan harga diri bangsa dimata rakyat dan di mata dunia, bukan mampunya cuma bilang prihatin.

Jika Iwan Fals menjadi presiden, saya akan minta kepadanya untuk menghentikan acara seremonial gerak jalan 17 kilometer, 8 kilometer, dan 45 kilometer. Sebab jika kita merdeka tahun 1980, apakah juga harus ada seremonial gerak jalan sejauh 80 kilometer setiap tahun?. Saya juga akan minta agar Bang Iwan tidak menyuruh rakyat memasang bendera di halaman rumah, mengundang veteran perang untuk ikut upacara di kantor pemerintah dan setelah itu menyuruhnya pulang naik ojek setiap peringatan hari kemerdekaan RI di kantor-kantor pemerintah, sebelum pemerintah sendiri benar-benar mampu membuat rakyat merasa telah dapat menikmati nikmat merdeka lebih dari setengah abad lamanya.

Sebab di tengah khidmat peringatan detik-detik proklamasi di kantor-kantor pemerintah, dan di tengah pekak-pekik orang melihat lomba tarik tambang, lomba lari dengan karung beras, panjat pinang, dan hiburan rakyat lain saat merayakan hari kemerdekaannya bangsanya, masih banyak saudara-saudara sebangsa yang kesulitan memasukkan anaknya ke sekolah. Entah karena sekolahnya jauh, biayanya mahal, atau karena tak mampu membuatkan seragam sekolah. Masih banyak saudara-saudara setanah air yang merasakan pedihnya ditolak masuk rumah sakit karena dianggap tak mampu membayar biaya pengobatan. Meski benar-benar miskin kin kin kin, orang miskin yang ingin menerima perawatan kesehatan rumah sakit harus mampu lebih dulu memperlihatkan identitas sebagai orang miskin. Sebab di negeri ini orang miskin pun harus memiliki identitas sebagai orang miskin.

Jika Iwan Fals menjadi presiden, saya akan minta kepadanya untuk mencabut semua subsidi BBM dan menyediakan stasiun pengisian bahan bakar khusus bagi rakyat miskin, petani, nelayan, angkutan umum, dan sarana angkutan kebutuhan pokok rakyat. Saya akan minta kepadanya untuk tidak ragu-ragu mencabut subsidi BBM, karena bensin yang disubsidi pemerintah itu lebih banyak dinikmati pengendara mercy, BMW, dan kendaraan mewah milik orang-orang kaya. Yang gak punya mobil, kasian deh lu. Tak perlu takut menghadapi tekanan politik dari anggota Dewan dan partai-partai politik, sebab dia menjadi presiden karena dipilih rakyat, bukan dipilih anggota Dewan.

Jika Iwan Fals menjadi presiden, saya akan minta kepadanya untuk melarang seluruh pemerintah daerah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seremonial setiap peringatan hari bumi, hari anti narkotika, hari lingkungan hidup, hari ibu, hari Kartini, hari anak, hari bapak atau hari-hari lainnya yang dicetuskan oleh mahkluk Tuhan. Sebab kegiatan seremonial dalam memperingati hari-hari cetusan manusia itu pada kenyataannya lebih banyak menghabiskan anggaran yang harusnya justru bisa dialokasikan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Saya akan minta kepadanya untuk menggantikan seremonial hari ibu di kantor-kantor instansi pemerintah itu dengan menghidupi janda-janda tua, ibu-ibu miskin yang membanting tulang untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Beberapa waktu lalu, ketika saya belum terikat dengan segala macam peraturan sebagai pegawai negeri sipil, saya sering berkeliling mencari tahu di mana di daerah saya ada janda-janda tua tanpa tanda jasa yang berusaha sekuat tenaga menyekolahkan anaknya. Alhamdulillah saya menemukan seorang ibu janda yang terpaksa harus merangkap profesi sebagai tukang cuci, tukang urut, dan tukang sapu untuk menyekolahkan anaknya. Untungnya ternyata sebagian biaya sekolah anaknya telah ditanggung pemerintah daerah setempat. Ibu janda itu, tak tahu jika hari itu adalah Hari Ibu yang di kantor-kantor pemerintah diperingati dengan lomba memasak, lomba merangkai bunga, dan lomba busana antaribu-ibu dharma wanita.

Saya juga akan minta kepada Bang Iwan untuk mengalihkan dana kegiatan seremonial peringatan hari anak dialihkan bagi dana pembuatan tempat penampungan anak-anak jalanan, yang ironisnya justru dianggap sebagai sampah jalanan yang dapat merusak keindahan kota.
Bisakah ketika kelak menjadi presiden Iwan Fals melaksanakan impian saya? Wallahu’alam bisawab. Namun sebagai muslim yang dilarang untuk berputus asa, saya tak boleh berhenti berharap, berusaha, dan berkeyakinan. Meski setiap saya yakin dengan suatu pilihan, saya kembali harus siap-siap kecewa.

Tapi saya memiliki keyakinan yang dalam kepada tokoh sekaliber Iwan Fals. Sebab sebelum pahlawan reformasi dialamatkan kepada segelintir tokoh-tokoh politik, yang jelas ada maunya, Iwan Fals telah lebih dulu menyanyikan suara rakyat yang minta kekuasaan era orde baru direformasi. Ia berani berteriak lantang, ketika kita terancam bisa ”di-munir-kan” jika bersuara lantang.

Sebab sebelum rakyat sadar bahwa wakil-wakil yang dipilihnya di kursi Dewan ternyata tak lebih dari sekumpulan calo proyek, Iwan Fals telah lebih dulu berusaha menyadarkan kita dan mereka yang di kursi Dewan. Sebab sebelum Kapolri Jendral Sutanto memberangus pelaku ilegal loging, Iwan Fals telah lebih dulu memekik rusaknya hutan akibat dijarah pengusaha dan penguasa. Sanggupkah Iwan Fals menjadi manusia setengah malaikat?

 



comments powered by Disqus
Berita Lainnya